» » » Klepon Ubi Jalar

22 Desember 2013

Selamat hari ibu untuk ibu-ibu di seluruh penjuru tanah air dan belahan dunia.  Beribu terima kasih untuk 'bue' yang telah merawat dengan penuh cinta dan kasih sayang.  'Bue', ibuku, ibu rumah tangga biasa.  Dengan begitu saya dan anak-anak beliau mendapatkan curahan waktu dan kasih sayang yang melimpah ruah. Begitu banyak pelayanan yang diberikan bue, sehingga sampai sekarang tidak ingin beranjak dewasa.  Ingin terus menjadi anak-anak dan selalu bersama bue.  Saking lengketnya saya dengan ibu, sampai-sampai tetangga menjuluki saya "buntute ibune" (ekor ibunya).  Kemana pun bue pergi saya selalu ikut.  


Tidak usah pergi jauh-jauh.  Ibu hanya ibu rumah tangga biasa, perginya pun tidak jauh-jauh.  Masa-masa manis yang selalu terkenang, saat pergi belanja ke pasar Mlonggo Jepara.  Rumah kami di desa Sekuro.  Untuk pergi ke pasar harus jalan kaki 500 m ke jalan raya baru bisa naik anggkutan umum, paling 4 menit sampai pasar.  Mendingan jalan kaki daripada naik angkutan umum. Biasanya bue ke pasar sambil menjual hasil kebun, kelapa, pisang, nangka.  Saya hanya menemani bue ke pasar.  Sedangkan bue yang menggendong hasil kebun tersebut.  Saya tidak disuruh membawa hasil kebun karena kasian masih kecil.  Jalan kaki sampai pasar saja sudah capai.  Saat capai saya minta berhenti sebentar melepas lelah. Saat yang paling menyenangkan itu saat menyeberangi jembatan.  Jembatan waktu itu masih dari beberapa buah bambu yang diikat dan disisinya diberi pegangan.  Jalan di atas bambu yang goyang ke kanan ke kiri.  Menyeramkan.  Bue lebih hebat lagi, menyeberangi bambu sambil menggendong 12 buah kelapa.  Masa kecil yang indah, selalu berkesan dan tidak terlupakan. Saat tahun menunjukkan angka 1982 an.  Tentu saja saat ini jembatan bambu itu sudah menjadi jembatan cor beton. 


Kemana pun ibu pergi selalu ikut, walaupun itu hanya ke samping rumah.  Saat ibu mengupas buah kelapa hasil panen dari kebun di desa Poring Karang Gondang.  Setelah ibu capai mengupas kelapa, gantian saya membantu.  Kelapa di kupas dengan "slumbat".  Slumbat itu batang kayu setinggi 50 cm yang ujungnya diberi selonsong besi.  Besi ini sebagai alat mengupas kulit kelapa sedikit demi sedikit.  Tidak mudah mengupas kelapa dengan slumbat.  Berat.  Melihat ibu bisa, saya pun harus bisa.  Kelapa yang mudah dikupas itu yang kulitnya tebal.  Kalau kelapa kulitnya tipis dan bulat licin itu sangat susah dikupas.


Kenangan indah bersama ibu.  Pergi kemana pun senang sekali ikut, padahal itu pergi ke kuburan.  Kuburan keluarga dibuat mengelompok.  Kuburan kakek, nenek, pak dhe, budhe dll.  Biasanya ibu ke kuburan kalau rumput-rumput sudah tinggi dan perlu dibersihkan.  Setelah membaca doa, ibu mencabut rumput-rumput dan menyapu.  "Ini kuburannya mbah Tani, ini kuburannya mbah Sarinah, dll" ujar ibu.  Saya senang, senyum-senyum sambil main-main dan tidak membantu bue menyapu.  Tidak hanya saat membersihkan rumput kuburan.  Saat membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar rumah pun saya ikut menemani.  Saya senang, senyum-senyum dan tidak membantu.  Ibu tidak marah saya tidak membantu.  Saya hanya ikut jongkong sambil bercerita atau gantian ibu yang bercerita.


Saat yang tidak terlupakan adalah menemani ibu memasak di dapur. Kalau sedang malas, saya hanya jongkok menemani ibu dan tidak membantu. Ibu tidak marah melihat saya yang hanya termangu disampingnya dan tidak membantu. Waktu itu dapur masih menggunakan kayu bakar.  Bagian yang saya suka di dapur adalah mengupas dan mengiris bawang, mengiris cabai, memotong sayur, menakar bumbu di ulekan.  Untuk mengulek bumbu dan tahap selanjutnya memasak sayur ibu yang mengerjakan. Ikan dari pasar, saya yang membersihkan isi perutnya, memberi garam dan tahap selanjutnya menggoreng ikan ibu yang mengerjakan.  Saya suka sekali kalau menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.  Seperti juga saat membuat santan.  Saya suka sekali kalau disuruh memarut kelapa menggunakan parutan kayu yang diberi paku kecil-kecil.  Untuk tahap selanjutnya memberi air dan kelapa diperas santannya, ibu yang mengerjakan.


Masih banyak sekali kenanganan indah bersama bue. Bue buatkan bubur beras saat saya sakit.  Bue buatkan nasi goreng malam-malam saat saya lapar.  Bue buatkan bubur duringan dengan pongge (biji durian) yang luar biasa enak.  Bue belikan lontong ke warungnya mbak Sai sampai harus lari-lari agar saya bisa sarapan sebelum sekolah.  Bue yang malah menyuruh saya tidak usah membantu mencabut rumput karena takut tangan dan kaki saya berdarah atau tertusuk duri.  Terima kasih banyak ibu, bue.  Semoga bue selalu diberikan kesehatan dan kemudahan.  Mohon maaf saya sebelum ke Jerman kemarin tidak sempat pulang ke Jepara.  Insyaallah nanti saat pulang ke Indonesia akan langsung ke Jepara untuk hanya sekedar duduk bersama dan mendengarkan cerita bue.


Semoga dengan melihat ketulusan bue dulu merawat saya, memberikan motivasi agar saya mempunyai ketulusan yang sama. Bue dengan tulus menyiapkan sarapan sebelum sekolah.  Harusnya saya pun tulus jika harus menyiapkan sarapan untuk ke sekolah Shafa dan Mas Edy.  Saya tidak boleh malas harus bangun pagi-pagi dan sibuk di dapur.

***


Klepon Ubi

Ubi makanan kesukaan.  Paling suka dengan kolak ubi jalar.  Terkadang bapak penen ubi dari kebun.  Ubi ini dibuat kolak, direbus dan dimakan bersama kelapa muda yang diparut atau ubi digoreng seperti membuat pisang goreng.  


Pengen mencoba ubi yang dibuat masakan lain, dibuat klepon.  Resep klepon ini didapat dari http://dapurmasak.com. Resep klepon diposting oleh mbak Tri Umiatik.  Ternyata mudah membuat klepon ubi ini.  Memang dasarnya suka sekali dengan ubi jalar, jadi dibuat apa saja pasti suka, termasuk klepon ini.  Enakkk banget menurut saya...






Bahan yang dibutuhkan

250 g ubi jalar dikupas, dipotong tipis-tipis kemudian di kukus
50 g tepung tapioka
60 g gula merah dipotong dadu kecil
1 jumput garam
1 saset gula vanili

Kelapa parut secukupnya
1 jumput garam
1 sdm gula pasir


Cara membuat

* Ubi jalar yang sudah dipotong tipis-tipis dikukus bersama dengan kelapa parut.  Kukus hingga ubi jalar empuk.  Catatan: Karena ubi dipotong tipis-tipis, lama mengukus jadi sebentar paling hanya 10 menit.  Kelapa di letakkan dalam alu foil yang dilapisi kertas panggang kemudian dibentuk tekor (dibentuk seperti mangkuk).  Kelapa jadi cepat panas.  Jika kelapa diletakkan dalam mangkuk kaca, kelapa kurang cepat panas.


* Angkat kelapa yang sudah dikukus, letakkan di mangkuk, tambahkan 1 jumput garam dan 1 sdm gula pasir.


* Ambil ubi jalar panas, masukkan dalam baskom.  Hancurkan ubi panas hingga halus.  Tambakan 1 jumput garam dan 1 saset gula vanili.  Tambahkan 50 g tapioka, sedikit demi sedikit hingga ubi dapat dibentuk bulat. 


*Rebus air secukupnya hingga mendidih


* Ambil sedikit ubi, pipihkan di atas telapak tangan, beri 1 dadu kecil gula merah.  Tutup dan bulatkan ubi jalar.  Masukkan klepon ke dalam air mendidih, tunggu hingga mengapung, angkat dan tiriskan.


* Sajikan klepon dengan kelapa kukus.



###

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Tambahkan Komentar